Jakarta Dilanda Kemacetan, Stafsus Menkeu: Tanda Ekonomi Bergeliat!

9 February 2023 | 8
Ilustrasi macet Jakarta (Andhika Prasetia/detikcom)

MediaJustitia.com: Kemacetan yang melanda ibu kota belakangan ini membuat warga Jakarta dan sekitarnya mengeluh. Tomtom Traffic Index mencatat, kemacetan saat ini sudah lebih buruk ketimbang 2019 sebelum pandemi COVID-19. Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan kemacetan ini adalah pertanda baik dari kondisi keuangan negara ini.

“Macet menjadi salah satu indikasi bahwa ekonomi bergeliat. Tentu ini tidak mengesampingkan pentingnya membangun transportasi publik yang baik,” kata Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo.

Yustinus Prastowo juga menyampaikan responsnya atas kemacetan Jakarta via Twitter. Dia menampilkan tangkapan layar dari berita detikoto, berjudul ‘Macet Jakarta Pagi Ini Sudah Lebih Buruk dari 2019’. Dia menyebut, kemacetan ini mengiringi kabar baik soal ekonomi.

“Hari ini Jakarta memberi saya pengalaman macet yang luar biasa. @detikoto menyebut indeks kemacetan pagi ini mencapai 63%, melebihi saat prapandemi 2019 sebesar 60%. Kabar baiknya, tak hanya kemacetan yg kembali ke level prapandemi, melainkan juga pertumbuhan ekonomi,” pungkas.

Dalam utasnya, dia menjelaskan kemacetan lalu lintas turut dipengaruhi tingkat penjualan kendaran. Pada 2022, penjualan mobil naik 18,76% dan sepeda motor naik 3,24%. Itu adalah tanda daya beli masyarakat tetap stabil dan terjaga.

“Macet kerap menjengkelkan, namun itu representasi aktivitas masyarakat. Makin menggeliat tentu makin mampu mendorong aktivitas ekonomi. Sejalan dengan itu, pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat dengan konsolidasi kebijakan fiskal dan moneter yang kuat,” kata Yustinus dalam utas Twitter-nya.

Pemerintah telah memberi jaminan sosial berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) BBM, bantuan subsidi upah, serta peningkatan realisasi subsidi plus kompensasi energi yang naik. APBN menjaga perekonomian. Subsidi dan kompensasi meningkat signifikan menjadi Rp 551,2 triliun pada 2022.

Dia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 naik 5,31%. “Bahkan tertinggi sejak 2013. Recover stronger!” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua juga dinyatakan Yustinus mengalami peningkatan. Namun demikian yang patut diwaspadai adalah harga komoditas ekspor unggulan menunjukkan tren penurunan. Secara umum, ekonomi Indonesia baik, terlihat dari kemacetan di Jakarta.

“Maka sepanjang perjalanan pulang kantor yg macet ini, saya tak henti bersyukur karena Indonesia memiliki APBN sebagai instrumen fiskal. Pada 2023 akan terus dioptimalkan menjaga daya beli dan semoga dikuatkan dalam menjaga ekonomi. Merdeka!” kata Yustinus.

Artikel ini telah terbit di Detiknews

banner-square

Pilih Kategori Artikel yang Anda Minati

View Results

Loading ... Loading ...