Asmara Victor Michael Nababan

21 October 2022 | 388

MediaJustitia.com: Asmara Victor Michael Nababan (2 September 1946 – 20 Oktober 2007) adalah seorang aktivis Hak Asasi Manusia dan Demokrasi di Indonesia. Asmara Nababan pernah aktif di Komnas HAM, bahkan perannya di Komnas HAM sangatlah vital. Selain itu, ia juga ikut mendirikan atau mengurus berbagai macam organisasi masyarakat sipil, yaitu Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak kekerasan (KontraS), Elsam, Demos, Komunitas Indonesia untuk Demokrasi, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Perkumpulan HAK di Dili, Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK) dan Human Rights Resource Center for Asean (HRRCA), serta berbagai Organisasi lainnya Ia juga pernah menjadi anggota beberapa Tim Pencari Fakta, antara lain, pada kasus kerusuhan Juli 1996, kerusuhan Mei 1998 maupun Timor Timur 1999. Dia juga ikut menyelidiki kasus pembunuhan Munir pada 2004.

Riwayat Hidup

Masa Kecil

Pada tahun 1953, Asmara Nababan bersama saudara-saudaranya pindah ke medan. Waktu itu ia sudah duduk di kelas dua Sekolah Rakyat (SR) Nasrani di Jalan Seram, sekelas dengan Akbar Tanjung. Teman kecil Asmara Nababan biasa memanggilnya Si Tongkar, dalam bahasa batak Tongkar berarti keras kepala.

Panggilan itu disandangnya karena ia dikenal sebagai anak yang suka berdebat dan berkelahi, selain itu Asmara juga dikenal sebagai aktivis politik. Saat duduk di bangku SMA Nasrani, Asmara sudah bergabung dengan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Bersama GAMKI ia melakukan aksi protes terhadap keadaan ekonomi bangsa yang semakin memburuk.

Mahasiswa di Jakarta

Setelah lulus SMA tahun 1964, Asmara Nababan bertolak ke Jakarta, di sana ia tinggal bersama Panda Nababan, kakaknya. Selama menjadi mahasiswa, Asmara berpindah-pindah jurusan, pertama ia berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI), ia hanya bertahan selama tiga semester, kemudian pindah ke Sastra Inggris, di sana ia juga tidak melanjutkan kuliahnya. Kemudian ia pindah ke Lembaga Kesenian Jakarta (LKJ), sekarang menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), kendati suka dan berbakat dalam bidang seni, ternyata Asmara pun tak betah. Pada tahun 1967, Asmara memutuskan pindah ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia, di sana ia mendalami ilmu hukum.

Pada tahun 1970 harga minyak di pasar internasional melonjak, penyebabnya adalah perang di Timur Tengah, Negara–negara Arab mulai enggan menjual minyak ke Barat yang menjadi pendukung Israel. Sebagai eksportir, Indonesia menikmati betul keadaan tersebut, negara memperoleh penghasilan sangat besar dari sektor perminyakan, tapi hal ini justru menjadi bencana, para pejabat tinggi negara mulai giat korupsi. Aksi protes menolak korupsi pun marak dilakukan oleh berbagai kalangan, kelompok Mahasiswa Menggugat bersama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) membentuk Komite Anti Korupsi (KAK). Asmara Nababan bersama Akbar Tanjung, Thoby Mutis, Arief Budiman, Marsillam Simanjuntak, Sjahrir, dan yang lain menjadi aktornya.

Berbagai aksi protes dan advokasi lainnya pun pernah dilakukan oleh Asmara Nababan semasa hidupnya, termasuk menolak proyek Taman Miniatur Indonesia Indah (TMII), Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Tapanuli Utara (1983), Pembantaian Santa Cruz (1991), dan lainnya. Asmara Nababan menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1975, kendati tamat ia tak pernah mengambil ijazah Sarjana Hukum (SH).

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM)

Pada 7 juni 1993, Presiden Soeharto membentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), melalui mantan Jaksa Agung Ali Said SH memilih sejumlah orang untuk diangkat menjadi anggota Komnas HAM, salah satunya Asmara Nababan. Tahun 1994 Asmara Nababan medapat tugas ke Aceh untuk membebaskan 11 anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditahan, kemudian pada 1998 Asmara kembali mendatangi aceh, di sana Asmara dan kawan-kawan mengungkap dan membongkar sebuah kuburan massal yang diyakini sebagai korban selama Aceh menjadi Daerah Operasi Militer (DOM, 1989-1998). Hal tersebut memicu ketegangan antara Komnas HAM denga Pemerintah saat itu.

Mulanya Komnas HAM dianggap tidak akan mampu menjalankan tugasnya, dan hanya menjadi alat kepentingan pemerintah saja, tetapi berkat peran Asmara Nababan dan Kawan-kawan termasuk Baharudin Lopa, Kepercayaan publik terhadap Komnas HAM saat itu terus meningkat. Hal itu terlihat dari upaya pengungkapan berbagai kasus pelanggaran HAM yang dilakukan Komnas HAM, Misal Komnas HAM membentuk Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM) dalam menuntaskan kasus di Timor Timur. Asmara menjadi Sekretaris Jenderal Komnas HAM untuk periode 1993-1998.

Kematian

Asmara Nababan menghembuskan napas terakhir di rumah sakit Fuda, Guangzhou, China pada 20 Oktober 2007 pukul 12.30 waktu setempat. Ia meninggal dunia akibat kanker paru-paru yang telah diderita selama setahun lebih. Asmara Nababan dimakankan di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

banner-square

Pilih Kategori Artikel yang Anda Minati

View Results

Loading ... Loading ...