Kesaksian Sopir Ambulans Patahkan Skenario Ferdy Sambo, Warganet: Sambo Lupa Kasih “Amplop Coklat”!

9 November 2022 | 34
Tangkapan Layar Tayangan Kompas.com

MediaJustitia.com: Sidang lanjutan kasus pembunuhan Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J dan perintangan penyidikan atau obstruction of justice dengan terdakwa Ferdy Sambo cs pada pekan keempat tengah berlangsung.

Agenda pemeriksaan masih berkutat pada pemeriksaan saksi dan berlangsung pada rentang waktu Senin 7 November hingga Kamis 10 November 2022.

Ahmad Syahrul Ramadahan turut dihadirkan menjadi saksi untuk memberikan sejumlah keterangan pada sidang Senin 7 November 2022. 

Sebagai informasi, Ahmad Syahrul merupakan sopir ambulans dari PT Bintang Medika yang ditugasi mengangkut jenazah Brigadir J dari rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga menuju RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Dalam kesaksianya, Ahmad Syahrul mengungkapkan sejumlah fakta sebagai berikut.

Menjemput Jenazah dari Pancoran Barat 7

Syahrul bersaksi bahwa ia segera bergegas berangkat ke lokasi kejadian setelah mendapat telepon dari call center pada pukul 19.08 WIB. Kemudian pukul 19.13 ada nomor yang menghubunginya untuk datang ke lokasi penjemputan jenazah. Ia pun berangkat dari Pancoran Barat 7 menuju lokasi rumah Sambo.

“Kemudian saya jalan dari Tegal Parang menuju lokasi penjemputan yang dikirim, lalu sampai di Siloam Duren Tiga ada orang tak dikenal ketok kaca mobil. ‘Mas mas sini mas saya yang pesen ambulans’ beliau naik motor, masuk komplek ada gapura di situ ada anggota provos lalu saya disetop,” kata Syahrul.

Mendekati titik lokasi kejadian, Syahrul diminta mematikan sirene ambulans. Ia pun lalu diarahkan menuju garasi. Setiba di lokasi penjemputan, mobil ambulans tersebut lalu diarahkan ke tempat parkir mobil. Pada saat itu dua mobil terlebih dahulu telah terparkir di tempat itu. Kemudian Syahrul mengambil tandu.

“Saya bilang, izin karena enggak muat, saya bawa tandu saja. Terus langsung masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam rumah saya kaget karena ramai dan banyak juga kamera,” ujarnya. 

Melihat Jenazah dalam Keadaaan Berlumuran Darah

Syahrul kaget melihat sesosok jenazah yang berada di samping tangga rumah dinas Ferdy Sambo itu. Jenazah itu dalam keadaan tergeletak dan berlumuran darah.

Seorang petugas lalu menyuruhnya untuk mengecek nadi dari tubuh yang tergeletak di lantai tersebut. Saat mengecek nadi jenazah itu, Syahrul mengaku telah menggunakan sarung tangan karet. Ia kemudian meminta izin untuk mengambil kantong jenazah setelah diminta untuk mengevakuasi.

Saat mengevakuasi, Syahrul pun melihat darah segar keluar dari tubuh jenazah. Ia juga melihat bekas tembakan. Luka tersebut diungkapkannya berbentuk bolong. Ia tidak melihat luka selain di dada jenazah.

Jenazah tersebut lalu dimasukkan ke kantong jenazah namun kantong tersebut tidak muat. Ia lalu melipat kakinya sedikit lalu menutup kantong tersebut dengan menutup resletingnya. Setelah itu dibawa menggunakan tandu untuk dimasukkan ke ambulans.

Setelah mengangkut jenazah ke dalam mobil ambulans, Syahrul kemudian membawa ambulansnya ke RS Polri Kramat Jati dengan dikawal oleh seorang anggota polisi dari Propam Polri.

Saat hendak menyalakan sirene ambulans, Syahrul mengaku dilarang oleh seorang anggota polisi.

“Pas saya mau menyalakan lampu ambulans diminta tahan dahulu. Tunggu arahan saja, nanti dikawal,” kata Syahrul.

Saat itu dia juga ditanya berkendara dengan siapa, dan dijawab Syahrul bahwa dia sendiri menyopiri ambulans tersebut.

Selama perjalanan, ambulans tersebut dikawal oleh mobil dari provos. Mobil ambulans itu pun melaju berada di belakang mobil Provos. Pada saat mengemudi, Syahrul mengungkapkan terdapat kendala macet saat di jalan. 

Jenazah Brigadir J Tak Langsung dibawa ke Kamar Mayat

Syahrul mengungkapkan sempat heran saat jenazah Brigadir J tak langsung dibawa ke ruang jenazah, melainkan terlebih dahulu dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat RS Polri Kramat Jati.

“Saya tanya, pak izin kenapa dibawa ke IGD dahulu. Katanya saya juga enggak tahu, mas. Saya ikutin arahan,” pungkasnya. 

Sesampainya di IGD, sempat ada petugas Polri yang bertanya korbannya berapa orang. Namun anggota tersebut kaget karena yang datang adalah kantong jenazah. Saat itu petugas di IGD juga bingung karena yang datang sudah dalam kantong jenazah.

“Terus ya sudah, dia bilang bawa ke belakang saja kamar jenazah,” kata Syahrul.

Kemudian di kamar jenazah, Syahrul pun bertemu seorang anggota polisi yang memintanya untuk menunggu sebentar dan meminta tolong agar jenazah Yosua diturunkan.

“Saya langsung turunkan dan saya pindahkan menggunakan troli ke kamar jenazah,” ujar dia.

Setelah tugasnya selesai, Syahrul justru dilarang pulang oleh seorang anggota polisi.

“Saya tunggu dekat masjid di samping tembok sampai jam mau subuh,” kata dia.

Saat ditanya hakim dalam sidang lanjutan Ferdy Sambo cs itu, apakah dia diberi uang, Syahrul mengatakan dia hanya diberi uang untuk ongkos ambulans dan cuci mobil.

Video kesaksian Ahmad Syahrul dipersidangan sontak dibicarakan oleh warganet. Ramai warganet turut berkomentar. Dikutip dari salah satu video akun Tiktok Kompas.com.

“Setelah Bharada E terbitlah supir ambulance,” tulis akun juragan endog.

“wah..sambo kelewat nih amplop coklatnya,” tulis ErNy R.Ridwan.

Artikel ini telah terbit di nasional.tempo.co

banner-square

Pilih Kategori Artikel yang Anda Minati

View Results

Loading ... Loading ...